BREAKING NEWS

Gusti Imansyah Soroti Pentingnya Pelestarian Adat, Dukung Penobatan Sultan Kutaringin ke-16 Sesuai Tradisi Kesultanan

 

Poto: singgasana Kesultanan Kutaringin — tempat yang akan menjadi simbol kepemimpinan dan amanah adat. Dari singgasana inilah nilai-nilai budaya, sejarah, dan kebesaran Kesultanan Kutaringin akan terus dijaga dan diwariskan untuk generasi mendatang.



DetikNews.sbs. Kotawaringin Barat – Menjelang prosesi penobatan Sultan Kutaringin ke-16 yang direncanakan berlangsung pada bulan Juni mendatang, salah satu kerabat Kesultanan Kutaringin, Drs. Gusti Imansyah, M.Si, menyampaikan pandangan sekaligus harapannya agar momentum bersejarah tersebut benar-benar dilaksanakan sesuai dengan tata adat dan tradisi Kesultanan yang diwariskan secara turun-temurun.Minggu (25/5)26).


Dikenal sebagai sosok yang kritis serta memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian adat dan budaya daerah, Gusti Imansyah bukan hanya dikenal sebagai tokoh Kesultanan, tetapi juga sebagai birokrat senior yang memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan dan pembangunan di Kotawaringin Barat.


Dari garis keturunan Kesultanan, Gusti Imansyah merupakan trah garis lurus Sultan Kutaringin ke-IX, Pangeran Ratu Imanudin. Ia juga merupakan buyut dari Pangeran Begawan Raja Kotawaringin serta buyut Pangeran Kelana Perabu wijaya, yang menjadikan keterikatannya terhadap sejarah dan marwah Kesultanan tidak hanya sebagai bentuk kepedulian, tetapi juga bagian dari warisan keluarga yang terus dijaga.


Dalam perjalanan pengabdiannya di pemerintahan, Gusti Imansyah pernah dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis. Ia mengawali pengabdian di wilayah kecamatan dengan menjabat sebagai Camat Sukamara, Camat Jelai, Camat Balai Riam, dan Camat Kumai.


Saat menjabat Camat Balai Riam dan wilayah lainnya, ia aktif memimpin rapat bersama tokoh masyarakat untuk mempersiapkan pembangunan kawasan serta penataan lokasi perkantoran pemerintahan sebagai bagian dari penguatan pelayanan publik.


Ketika menjabat sebagai Camat Kumai, Gusti Imansyah juga dikenal sebagai salah satu motor penggerak pemekaran wilayah yang kemudian melahirkan Kecamatan Pangkalan Lada dan Kecamatan Pangkalan Banteng. Dalam proses tersebut, ia terlibat langsung memimpin rapat bersama kepala desa, tokoh masyarakat, dan unsur terkait dalam mempersiapkan kebutuhan administrasi maupun sarana pemerintahan di wilayah pemekaran.


Karier birokrasinya terus berkembang dengan dipercaya mengemban sejumlah jabatan penting lainnya, di antaranya sebagai Kepala Bagian Pembangunan, yang berperan dalam koordinasi program pembangunan daerah, kemudian menjabat Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) yang kini dikenal sebagai perangkat daerah bidang Sumber Daya Manusia (SDM).


Ia juga pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), sebelum kemudian dipercaya memimpin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, di mana perannya cukup dikenal dalam upaya mendorong pelestarian budaya daerah serta penguatan identitas lokal.


Menjelang akhir masa pengabdiannya, Gusti Imansyah juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) hingga akhirnya memasuki masa purna tugas sebagai aparatur pemerintah.


Berbekal pengalaman panjang di pemerintahan dan kedekatannya dengan nilai-nilai adat, Gusti Imansyah menilai bahwa saat ini budaya dan tradisi mulai mengalami pergeseran di tengah perkembangan zaman.


Karena itu, penobatan Sultan Kutaringin ke-16 dinilai bukan hanya sekadar pergantian kepemimpinan adat, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat luas.


Menurutnya, seluruh rangkaian penobatan hendaknya dijalankan sebagaimana prosesi yang pernah dilakukan pada masa penobatan raja maupun sultan terdahulu, mulai dari tahapan sebelum penobatan, pelaksanaan inti penobatan, hingga rangkaian pasca penobatan.


“Momentum ini harus menjadi pembelajaran bersama. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana sebenarnya tata cara adat Kesultanan Kutaringin ketika melaksanakan penobatan seorang sultan. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengetahui nama kesultanannya, tetapi tidak memahami nilai, makna, dan prosesi adat yang menyertainya,” ungkapnya.


Ia juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda, terutama para pemuda dan pemudi juriat Kesultanan Kutaringin, agar tidak terputus dari akar sejarah dan identitas budaya mereka sendiri.


Menurut Gusti Imansyah, keterlibatan generasi muda dalam memahami proses penobatan menjadi langkah penting agar adat dan budaya tetap hidup serta dapat diwariskan dari generasi ke generasi.


“Anak-anak muda, khususnya keluarga dan keturunan Kesultanan sendiri, harus mengetahui bagaimana jalannya penobatan seorang sultan. Dengan demikian, tradisi ini dapat terus dilestarikan secara turun-temurun dan tidak hilang oleh perkembangan zaman,” ujarnya.


Saat disinggung mengenai sosok yang akan dinobatkan sebagai Sultan Kutaringin ke-16, Gusti Imansyah menyatakan dukungan dan menyambut baik keputusan yang telah dihasilkan melalui mekanisme adat.


Ia menyebut bahwa Pangeran Arsyadinsyah merupakan figur yang memang layak dinobatkan berdasarkan garis keturunan Kesultanan.

Menurut penjelasannya, Pangeran Arsyadinsyah merupakan saudara dari Sultan Kutaringin ke-15, Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, sekaligus putra dari Pangeran Ratu Alamsyah.


“Hal ini tidak bisa dibantah. Beliau adalah saudara atau adik dari Sultan tertua yang masih hidup. Penetapan ini juga tidak dilakukan secara sepihak, tetapi melalui pembahasan bersama dewan adat dan keluarga inti Kesultanan melalui musyawarah,” katanya.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari pertimbangan adat dan tanggung jawab menjaga keberlanjutan Kesultanan Kutaringin ke depan.


Gusti Imansyah berharap sosok Sultan ke-16 nantinya mampu menjadi penjaga nilai, budaya, dan marwah Kesultanan di tengah tantangan zaman modern.


“Beliaulah yang diharapkan dapat menjaga adat budaya serta marwah Kesultanan selanjutnya. Dan tentunya kami para tetua Kesultanan juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk terus menjaga, melestarikan, dan merawat warisan ini karena merupakan amanah dari para sultan terdahulu,” tutupnya.

(Gusti)