Serikat Buruh FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta, Dukung Pramono Anung Terkait Wacana Kenaikan Tarif TransJakarta
DetikNews.sbs, JAKARTA. - Pramono Anung, Guberrnur DKI Jakarta, sedang mengkaji dan mewacanakan penyesuaian tarif TransJakarta. Namun wacana tersebut menuai perdebatan pro-kontra ditengah masyarakat. Tarif awalnya sebesar Rp3.500 menjadi Rp5.000 hingga Rp7.000 per perjalanan. Dalam pernyataan resminya, Pramono menyampaikan wacana kenaikan tarif TransJakarta, segera diputuskan dalam waktu dekat ini.
Alasan Pramono menaikkan tarif TransJakarta ini akibat biaya operasional yang semakin meningkat setiap tahunnya. Pramono juga menambahkan, penetapan tarif perlu mempertimbangkan panjang perjalanan serta kualitas layanan yang diterima penumpang. Sebab, tidak mungkin lagi, rute Blok M-Soekarno-Hatta, harganya Rp3.500. Karena masyarakat naik bus Damri rata-rata harganya Rp100.000.
Menyikapi hal tersebut, Serikat buruh dari Pengurus Komisariat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri TransJakarta afiliasi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (PK FSB GARTEKS TransJakarta KSBSI), mendukung kenaikan tarif TransJakarta.
Andreas Hutagalung, Departemen Media dan Tim Organiser Buruh DKI Jakarta, DPP FSB GARTEKS KSBSI menyampaikan, alasan pihaknya mendukung kenaikan tarif TransJakarta memang sangat realistis. Dan keputusan tersebut sudah dilakukan kajian kritis dan ilmiah di internal organisasi.
“PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta tegas mendukung kenaikan tarif TransJakarta yang diwacanakan Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta. Selama tujuan kenaikan tersebut, untuk meringankan subsidi Anggaran Pendapatan dan Perbelanjaan Daerah (APBD) DKI Jakarta, kami mendukung,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada awak media, Sabtu, 13 Juni 2026.
Selain itu, alasan PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta mendukung wacana kenaikan tarif, untuk keberlangsungan operasional supaya berjalan baik. Dan untuk mengakomodir integrasi pelanggan TransJabodetabek. Tujuan kenaikan tarif ini juga dinilai lebih efisiensi dibandingkan kompetitor lainnya. Nah, jika tarif TransJakarta tidak dinaikkan, maka berdampak pada anggaran perusahaan.
“Seperti pengadaan bus transportasi TransJakarta tidak ada penambahan, biaya perawatan bus akan penuh kendala. Serta izin trayek rute yang dilalui dan dokumen lainnya.. Dimana, harapan pekerja dan pelanggan TransJakarta untuk bus yang beroperasi di rute TransJabodetabek lebih baik dalam sisi perawatan, kebersihan dan pelayanannya,” terangnya.
Tegasnya, Andreas menyampaikan, wacana kenaikkan tarif TransJakarta, sebuah langkah tepat untuk memihak pekerja. Apalagi, hampir 2 tahun Pramono memimpin Kota Jakarta, beliau telah banyak memberikan program sosial yang memihak pekerja. Diantaranya, melanjutkan program Kartu Pekerja Jakarta, Program Sekolah Swasta Gratis di DKI Jakarta Pramono Anung yang mencakup subsidi penuh untuk 103 sekolah swasta dan tentunya pekerja sangat diuntungkan dalam progam ini.
“Pramono juga baru saja membuka program, 2.843 lowongan kerja padat karya sebagai bantalan sosial. Program jangka pendek berdurasi tiga hingga enam bulan ini untuk menekan angka pengangguran dan korban PHK dan membantu masyarakat berpenghasilan rendah,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Sudarman Sihombing, Ketua PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta. Dia menjelaskan, jika tarif TransJakarta tidak dinaikkan, bisa berdampak pada kesejahteraan pekerja. Apalagi, kata Sudarman, tarif TransJakarta selama ini, sebesar Rp.3.500, sudah tak relevan dengan kondisi sekarang ini.
“Harga kebutuhan Bahan Bakar, perawatan dan operasional bus TransJakarta setiap tahun meningkat. Jika tarif TransJakarta tidak dinaikkan, akan berdampak pada ketiadaan penambahan armada bus baru untuk melayani masyarakat,” jelasnya.
Kemudian, jika tarif TransJakarta tidak dinaikkan, dia mengatakan juga berdampak pada kesejahteraan pekerja. Karena situasi ekonomi global dan Indonesia hari ini sedang sulit, akibat imbas resesi global. Sehingga terjadi inflasi yang tidak sesuai dengan kesejahteraan pekerja.
“Artinya, kalau tarif TransJakarta tidak dinaikkan, pasti bakal terjadi kebijakan pengurangan atau efisiensi kepada pekerja, khususnya yang status pekerja kontrak di TransJakarta. Situasi hari ini semuanya sedang mengalami krisis ekonomi. Hampir setiap hari pekerja terkena PHK dan kehilangan pekerjaan. Kami tidak mau masalah tersebut menimpa kami yang sudah banyak memiliki istri dan anak,” tegasnya.
Karena itu, PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta mendukung penuh wacana yang disampaikan Pramono Anung, untuk menaikkan tarif TransJakarta. Selama kenaikan tarif ini, tujuannya untuk keberlangsungan perusahaan dan kesejahteraan pekerja di TransJakarta. Terakhir, dia menepis isu miring, bahwa kehadiran PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta di PT. Transportasi Trans Jakarta bukan menjadi momok menakutkan hanya melakukan aksi demo.
"Melainkan kehadiran kami di lingkungan perusahaan untuk menjadi mitra dialog sosial dengan manajemen perusahaan. PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta akan memberikan saran dan kritik yang membangun untuk memajukan perusahaan. Kalau perusahaan maju, maka pekerjanya juga akan sejahtera," tandasnya.
( Marudut Sijabat)
