BREAKING NEWS

Tangis Orang Tua Pecah: Dugaan Kekerasan Guru SDN 181 Pekanbaru Sudah Setahun

 


DetikNews.sbs  PEKANBARU – Tangis orang tua pecah di SDN 181 Pekanbaru. Dugaan kekerasan oleh oknum wali kelas IV berinisial MD terhadap sejumlah murid disebut sudah berlangsung hampir setahun. Modusnya: patahan gagang sapu, penggaris kayu panjang, hingga ancaman “hukuman ditambah” jika lapor orang tua.


Kasus ini terkuak setelah para wali murid saling berkomunikasi dan menemukan pola perlakuan serupa di kelas IV.


Wali murid Juliana Rosdiana mengaku baru tahu anaknya, MAF, diduga jadi korban setelah bertemu siswa lain berinisial VS di warung dekat rumah, Jumat (10/4/2026).


“Tante, apakah tante tidak kasihan sama MAF?” kata Juliana menirukan VS. Awalnya ia kira itu simpati karena MAF tak punya ayah. Tapi VS lalu mengungkap: “Anak saya dibully di sekolah oleh oknum wali kelas dengan patahan gagang sapu. Bukan hanya anak saya.”


“Saya hancur,” ujar Juliana, Selasa (28/4/2026). “Anak saya titipkan untuk dididik, justru diduga mengalami kekerasan.”


Juliana lalu hubungi wali murid lain. Beberapa mengaku anaknya juga alami tindakan fisik dan diancam agar bungkam. Saat Juliana laporkan ke operator sekolah dan TU Zaki, sekolah minta diselesaikan internal dulu.


Sabtu (11/4/2026), Juliana temui kepala sekolah. Pertemuan resmi digelar Senin (13/4/2026) dihadiri kepsek, ketua komite, dan wali murid.


Orang tua siswa JF, Retmi Delmi Susanti, buka suara pertama. JF awalnya bungkam karena takut. Setelah dibujuk, ia mengaku dipukul pakai penggaris kayu panjang di punggung, alami benturan benda keras, dan ditusuk di perut. “Kalau cerita ke orang tua, hukumannya akan ditambah,” kata JF ditirukan Retmi.


Dampaknya: sejak semester dua, JF sering izin tidak masuk dan takut ke sekolah.


Orang tua siswa Rama juga temukan memar kebiruan di kaki anaknya.


Dalam forum itu, kepsek dan ketua komite sempat sebut oknum MD akan dibawa ke Dinas Pendidikan agar tak mengajar lagi. _Namun harapan pupus_. Hari itu juga, MD kembali mengajar. Juliana menyebut MD bahkan bertanya ke murid: “Kalian mengadu ya sama orang tua?” Anak-anak yang takut kompak jawab tidak.


Rapat lanjutan Rabu (15/4/2026) memanas. Sekolah sebut penyelesaian bertahap dan MD tidak jadi dibawa ke Disdik. Juliana pingsan di luar ruang rapat. Saat debat pecah, orang tua JF juga pingsan. Menurut Juliana, yang menolong sesama wali murid.


Upaya damai dengan salaman ditolak orang tua. “Bagaimana mungkin dugaan kekerasan hampir setahun selesai cuma salaman? Tanpa surat pernyataan resmi?” kata Juliana.


Senin (20/4/2026), para ortu adukan kasus ini ke DPRD Pekanbaru. Diterima Firman (Hanura), Abu Bakar (PKB), dan Achmad Faisal Reza (Demokrat). Hadir pula Plt Kadisdik Syafrian Tommy dan Kabid SD Sardius. Dijanjikan mediasi dalam sepekan, tapi hingga kini belum terlaksana.


Rabu (22/4/2026), sekolah kembali undang wali murid. Ortu menolak hadir karena agenda dinilai tak terkait substansi kekerasan.


Para wali murid kini menggandeng kuasa hukum Dosma Roha Sijabat. Mereka desak Disdik Pekanbaru dan APH usut tuntas secara objektif, transparan, dan berpihak pada psikologis anak.