BREAKING NEWS

Mikael Risdiyanto Setyabudi dan Jalan Panjang Menjaga Nurani Jurnalistik



   
Mikael Risdiyanto Setyabudi Jurnalis PRMN (flores.pikiran-rakyat.com)


Detiknews.sbs | Di tengah perubahan besar dunia media yang bergerak begitu cepat, profesi wartawan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Informasi mengalir tanpa batas, media sosial kerap mendahului proses verifikasi, sementara kepentingan politik dan ekonomi sering memengaruhi arah pemberitaan.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan jurnalis yang tetap menjaga idealisme menjadi semakin penting. Salah satu sosok yang menaruh perhatian besar terhadap nilai-nilai tersebut adalah Mikael Risdiyanto Setyabudi, jurnalis dari Pikiran Rakyat Media Network.


Mikael dikenal sebagai figur yang memiliki perhatian kuat terhadap isu hukum, sosial, dan terutama persoalan korupsi. Baginya, jurnalistik bukan sekadar profesi untuk menulis berita, melainkan bagian dari upaya menjaga demokrasi dan kepentingan publik.

Sejak awal menekuni dunia media, ia meyakini bahwa wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan fakta secara jujur kepada masyarakat. Berita, menurutnya, bukan hanya rangkaian kata di halaman media, tetapi instrumen kontrol sosial yang dapat memengaruhi arah kebijakan dan kesadaran publik.

Pandangan itu sejalan dengan pemikiran Joseph Pulitzer yang pernah mengatakan, “Our Republic and its press will rise or fall together.” Sebuah bangsa dan persnya akan bangkit atau jatuh bersama-sama.

Ketertarikan pada Isu Korupsi

Salah satu bidang yang paling menarik perhatian Mikael adalah pemberantasan korupsi. Ia memandang korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan persoalan moral dan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam berbagai tulisan dan liputannya, pria kelahiran Cilacap itu kerap menyoroti dugaan suap, penyalahgunaan jabatan, hingga dinamika penegakan hukum di daerah.

Fokus tersebut lahir dari keyakinannya bahwa praktik korupsi merupakan akar dari banyak persoalan bangsa, mulai dari ketimpangan sosial, buruknya pelayanan publik, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Inspirasi keberanian membongkar persoalan korupsi salah satunya datang dari sosok George Junus Aditjondro. Tokoh ini dikenal luas karena keberaniannya mengungkap relasi kuasa dan praktik korupsi di Indonesia, meski harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak.

Bagi Mikael, keberanian intelektual seperti itulah yang harus dimiliki insan pers. Wartawan tidak boleh hanya menjadi penonton atas penyimpangan kekuasaan, melainkan harus menjalankan fungsi pengawasan demi kepentingan publik.

Pandangan tersebut mengingatkan pada ungkapan Carl Bernstein yang menyebut, “Journalism is the first rough draft of history.” Jurnalisme adalah draft pertama sejarah.

Pers sebagai Kontrol Sosial

Dalam perjalanan jurnalistiknya, Mikael menaruh perhatian besar pada fungsi pers sebagai kontrol sosial. Ia percaya media harus menjadi ruang yang mampu menyuarakan kepentingan masyarakat, terutama kelompok yang kerap tidak memiliki akses terhadap kekuasaan.

Karena itu, banyak tulisannya menyoroti persoalan rakyat kecil, proses hukum yang dinilai belum transparan, hingga polemik kebijakan publik di daerah.

Di era modern, tantangan media bukan hanya tekanan politik, tetapi juga derasnya arus disinformasi. Informasi viral sering beredar tanpa proses verifikasi yang memadai.

Dalam situasi tersebut, Mikael tetap meyakini bahwa verifikasi adalah jantung utama jurnalistik. Pandangan itu sejalan dengan prinsip yang dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Journalism bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran.

Baginya, wartawan harus mampu menjaga jarak dari kepentingan tertentu agar berita yang dihasilkan tetap independen. Independensi bukan berarti memusuhi kekuasaan, tetapi memastikan kepentingan publik tetap menjadi prioritas utama.

Gaya Penulisan yang Kritis dan Lugas

Dalam berbagai karya jurnalistiknya, Mikael dikenal memiliki gaya penulisan yang lugas dan langsung pada substansi persoalan. Ia menghindari bahasa yang bertele-tele dan memilih menyampaikan fakta secara runtut agar mudah dipahami pembaca.

Namun di balik gaya yang sederhana tersebut, terdapat upaya menjaga kedalaman analisis. Ia tidak hanya menampilkan peristiwa di permukaan, tetapi juga membaca konteks sosial dan politik di balik sebuah kasus.

Pendekatan itu membuat banyak tulisannya memiliki nuansa investigatif, terutama ketika membahas dugaan korupsi dan penyalahgunaan kewenangan.

Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan Anna Politkovskaya yang pernah mengatakan, “Without journalism there are no freedoms.” Tanpa jurnalisme, tidak ada kebebasan.

Tantangan Jurnalisme di Era Digital

Perkembangan teknologi telah mengubah wajah media secara drastis. Kini siapa saja dapat menjadi penyebar informasi hanya melalui telepon genggam.

Di satu sisi, kondisi ini membuka akses informasi yang lebih luas. Namun di sisi lain, muncul persoalan banjir informasi, hoaks, dan polarisasi opini publik.

Menurut Mikael, tantangan terbesar wartawan masa kini bukan hanya mendapatkan berita, tetapi menjaga kredibilitas di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu benar.

Ia percaya media yang mampu bertahan adalah media yang menjaga integritas. Kepercayaan publik tidak dibangun melalui sensasi, melainkan melalui konsistensi menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pandangan itu sejalan dengan pernyataan Walter Cronkite yang mengatakan, “Freedom of the press is not just important to democracy, it is democracy.”

Menjaga Idealisme di Tengah Tekanan

Menjadi wartawan yang kritis tentu bukan perkara mudah. Dunia jurnalistik kerap berhadapan dengan tekanan politik, ekonomi, bahkan intimidasi ketika menyentuh kepentingan tertentu.

Namun bagi Mikael, tantangan tersebut merupakan bagian dari konsekuensi profesi. Ia percaya wartawan harus memiliki keberanian moral untuk tetap berpihak pada fakta dan kepentingan publik.

Keberanian itu, menurutnya, bukan berarti bertindak sembrono, melainkan tetap bekerja berdasarkan data, verifikasi, dan etika jurnalistik.

Pandangan tersebut mengingatkan pada prinsip Bob Woodward bahwa tugas utama wartawan adalah mencari fakta, bukan menjadi alat propaganda ataupun pembela kekuasaan.

Pers dan Masa Depan Demokrasi

Dalam perjalanan sejarah, pers selalu memiliki hubungan erat dengan demokrasi. Media yang bebas dan independen menjadi syarat penting agar masyarakat dapat mengawasi jalannya kekuasaan.

Mikael memandang peran tersebut masih sangat relevan hingga hari ini. Ketika masyarakat kehilangan akses terhadap informasi yang jujur dan terpercaya, ruang demokrasi perlahan akan melemah.

Karena itu, ia menilai wartawan tidak boleh berhenti belajar dan meningkatkan kualitas diri, mulai dari memahami data, membaca regulasi, hingga menguasai teknik investigasi.

Selain itu, ia juga percaya bahwa jurnalisme harus tetap memiliki dimensi kemanusiaan. Berita bukan hanya soal angka dan fakta, tetapi juga tentang manusia yang terdampak di balik sebuah peristiwa.

Pada akhirnya, kiprah Mikael Risdiyanto Setyabudi mencerminkan satu hal penting: bahwa di tengah perubahan zaman dan tantangan media modern, idealisme jurnalistik masih memiliki tempat.

Melalui perhatian terhadap isu korupsi, keadilan sosial, dan fungsi kontrol pers, ia berupaya menjaga agar media tetap menjadi ruang yang berpihak pada kepentingan publik.

Seperti dikatakan George Orwell, “Journalism is printing what someone else does not want printed; everything else is public relations.”

Kutipan itu menjadi pengingat bahwa tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga keberanian untuk menghadirkan kebenaran di tengah berbagai tekanan dan kepentingan.