BREAKING NEWS

Digerebek di Samping Tol Makassar! Gudang Mafia Solar Simpan 24 Ton BBM, Diduga Ada Oplosan Avtur


Detiknews.sbs
Makassar, 26 April 2026 — Tim Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Sulawesi Selatan melakukan penggerebekan terhadap sebuah gudang yang diduga menjadi lokasi penimbunan dan praktik ilegal bahan bakar minyak (BBM) di kawasan pergudangan, tepat di samping jalan tol Makassar.


Dalam operasi tersebut, aparat menemukan total sekitar 24 ton BBM, yang terdiri dari 13 ton solar subsidi dan 11 ton avtur (aviation turbine fuel).


Temuan ini memunculkan dugaan kuat adanya praktik ilegal berupa pengoplosan avtur menjadi solar subsidi. Modus ini dinilai sangat merugikan negara sekaligus berpotensi membahayakan masyarakat, mengingat perbedaan spesifikasi bahan bakar tersebut.


Sumber terpercaya yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa praktik mafia BBM di Makassar diduga melibatkan jaringan besar. Selain melakukan penimbunan solar subsidi, para pelaku juga disebut-sebut memanfaatkan avtur untuk dicampur dan diedarkan kembali sebagai solar.


“Ini bukan pemain kecil. Ada indikasi mafia kelas kakap yang bermain, termasuk dugaan pengoplosan antara avtur dan solar subsidi,” ujar sumber tersebut.


Lebih lanjut, ia menyebut bahwa sumber avtur di Makassar sangat terbatas, dan selama ini diketahui hanya tersedia di fasilitas bandara. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya kebocoran distribusi.


“Avtur itu tidak dijual bebas. Di Makassar, sumber terbesarnya hanya dari lingkungan bandara. Jadi kalau sampai keluar dalam jumlah besar, patut diduga ada keterlibatan oknum,” tegasnya.


Informasi lain yang beredar menyebutkan bahwa sejumlah nama diduga terdaftar dalam aktivitas di area bandara dengan modus sistem deposit. Para pelaku disebut melakukan pembayaran di awal sebelum mengambil avtur untuk kemudian didistribusikan secara ilegal ke luar area bandara.


Hingga saat ini, pihak Polda Sulsel masih melakukan pendalaman terkait asal-usul BBM tersebut serta memburu pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan mafia minyak ini.


Kasus ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan distribusi BBM bersubsidi serta membuka dugaan adanya praktik terorganisir yang telah berlangsung lama ( Tim Media )