ADAB" di Ujung Kawat Berduri: Catatan dari Demo 21 April di Samarinda
"DetikNews.sbs KALTIM - Samarinda, Peristiwa 21 April 2026 di Samarinda menyisakan luka yang lebih dalam dari kawat berduri. Bukan sekadar soal hak angket atau potensi kericuhan. Publik mencatat satu adegan yang mengoyak etika kepemimpinan di Kalimantan Timur.
Saat massa kecewa karena tak ditemui, Gubernur Rudy Mas’ud akhirnya keluar kantor. Tujuannya: Rumah Jabatan Gubernur, masih dalam satu kompleks. Ia berjalan diiringi pengawalan ketat, melintasi barisan aparat yang sejak pagi menjaga Kantor Gubernur.
Di situlah ironi memuncak. Di tengah suhu politik yang panas, tak tampak sepatah kata terima kasih. Tak ada anggukan. Tak ada jeda untuk sekadar menatap prajurit Polri dari Polda Kaltim hingga Polresta Samarinda yang berdiri tegak, menahan diri.
Padahal, catatan lapangan menyebut aparat bersikap humanis. Kapolda dan Kapolres turun langsung. Tak ada gas air mata meletus meski situasi memanas. Mereka menjaga simbol negara seperti menjaga rumah sendiri.
Yang terekam publik: wajah dingin sang Gubernur. Protokol boleh ketat. Tapi adab tak boleh mati.
Pertanyaannya pahit: apakah jabatan membuat seorang pemimpin merasa terlalu besar untuk berterima kasih kepada mereka yang menjaganya? Apakah kawat berduri itu bukan hanya menghalau pendemo, tapi juga memagari hati dari rasa syukur?
Marwah pemimpin bukan di rumah jabatan. Marwah ada pada cara ia memanusiakan manusia. Jika kepada aparat yang menjaga nyawanya saja gestur apresiasi tak terlihat, bagaimana rakyat kecil yakin suaranya didengar?
Kalimantan Timur tak butuh pemimpin yang ingat aparat hanya saat terdesak. Rakyat mencatat: yang dibangun bukan cuma infrastruktur dari APBD, tapi juga keteladanan di jalanan.
